Kamis, 28 April 2011

tips - trik mengatasi Laptop panas

1. Gunakan cooling pad
cara ini paling umum, tp pemakaian cooling pad kurang berpengaruh. cooling pad yg paling murah paling hanya menurunkan temperatur cpu 1-5C

2. Bersihkan kipas heatsink notebook dari debu
biasanya klo laptop udh lama dipake, maka debu akan numpuk di kipas & heatsink. debu akan menghalangi hembusan udara panas keluar, jadi cpu ente akan spt di gurun pasir. hehe ..

3 Ganti thermal paste CPU
stelah bersihkan heatsink dari debu, jangan lupa ganti thermal paste. Thermal paste tidak berfungsi untuk mendinginkan cpu secara aktif, melainkan membuat transfer panas dari CPU ke heatsink menjadi lebih bagus. klo ente ganti thermal paste tp heatsink berdebu atau kipas tidak berjalan normal, gak bakal efek.

4. Suhu Ruangan
suhu ruangan sangat berpengaruh thd panas laptop. Bagusnya sih nyalain laptop di tengah antartica kali ya..wkwkwk. Nah, karena ane pake laptop di ruangan non-AC, jadi ane ga bisa terlalu banyak berharap dari sini.

5. Undervolting
Nah, cara yg ini langsung mengurangi panas di CPU sndiri dengan menggunakan s/w dengan total biaya 0, Hasilnya bisa mengalahkan smua point di atas huehehehe

Apa sih Undervolt itu?? undervolting adalah proses mengurangi voltase berlebih ke CPU dengan menggunakan software. Undervolting tidak mempengaruhi performance sama skali. yang mempengaruhi performance adalah overclock dan underclock. Undervolting tidak sama dengan underclocking zzz

Tidak semua prosesor sama, tiap model prosesor memiliki toleransi voltase yang berbeda. Tapi daripada repot2 menyetel voltase stabil terendah ke tiap chip, Intel memakai voltase standard yang stabil (dan tinggi) ke setiap chip.

Masalahnya adalah voltase standard pabrikan sangat tinggi
(otomatis menambah tinggi temperatur cpu). Undervolting mencoba menyetel ke voltase stabil yang paling rendah

Proses undervolting memang memakan waktu, karena kita harus mencari voltase stabil terendah untuk tiap2 multiplier di CPU. Multiplier berhubungan dengan teknologi speedstep, daripada cpu bekerja full power tiap saat, multiplier digunakan untuk mengatur clock cpu secara dinamik (tanda multiplier: 6x, 7x, 8x dst). Tp klo udh dpt voltase stabilnya.

Senin, 11 April 2011

SANDY BRIDGE Teknologi Prosesor Masa Depan

Sandy Bridge adalah jembatan teknologi prosesor ke masa depan. Pantas saja jika kami sebut begitu. Pasalnya, Sandy Bridge adalah perubahan terbesar yang dilakukan Intel sejak era Pentium 4.
Pada mikroarsitektur sebelumnya, Intel lebih banyak mengoptimasi kinerja tiap komponen, tanpa mengubah cara kerja komponen tersebut. Jika prosesor dianalogikan sebagai sebuah rumah, Intel cuma melakukan renovasi terhadap rumah tersebut.
Namun di Sandy Bridge, Intel betul-betul membangun sebuah rumah baru. Seluruh komponen diperbarui, mulai dari branch predictor, out-of-order execution, sampai kerja memory subsystem.

Namun yang terpenting adalah Sandy Bridge adalah wujud sebenarnya dari fusion processor, alias prosesor yang menyatukan seluruh komponen prosesor ke dalam sekeping silikon.
Sebenarnya Intel sudah melakukan kebijakan integrasi ini sejak 2 tahun lalu. Pada generasi prosesor Bloomfield, mereka memasukkan memory controller. Pada Lynnfield, giliran PCI-E controller yang masuk. Puncaknya di era Clarkdale, ketika Intel chip grafis onboard.
Ada satu catatan penting dari seluruh proses tersebut: seluruh komponen sebenarnya masih terpisah dalam keping-keping silikon yang berbeda. Nah, hal itulah yang Intel rombak di Sandy Bridge. Seluruh komponen di dalam prosesor Sandy Bridge berada dalam sekeping silikon yang dibuat dengan fabrikasi 32nm.
Komponen di dalam prosesor ini sendiri kurang lebih sama seperti Nehalem. Yang pertama tentu saja inti prosesor. Pada Sandy Bridge generasi pertama ini jumlah inti masih 2 dan 4, namun akan disusul generasi berikutnya yang memiliki 6 dan 8 inti.
Masing-masing inti memiliki L2 cache sebesar 256KB. Kerja L2 cache dibantu dibantu cache level 3 (L3 cache) yang jumlahnya sama dengan inti dengan ukuran bervariasi antara 3-8MB, tergantung segmentasi. Sedangkan PCI Express, DMI, dan memory controller dan display interface berkumpul menjadi satu menjadi komponen yang disebut System Agent.
Anda mungkin bertanya, mengapa Intel susah payah mengumpulkan seluruh komponen ke dalam prosesor? Jawabannya karena ada banyak keuntungan dengan sistem saling terintegrasi seperti ini.
Yang utama tentu saja peningkatan performa, karena tiap komponen dengan mudah terhubung satu sama lain. Apalagi, Intel Intel menggunakan interkoneksi baru yang disebut Ring Bus di Sandy Bridge ini. Interkoneksi ini menghubungkan seluruh komponen, mulai dari chip prosesor, chip grafis, sampai cache. Ring Bus ini diklaim memiliki kecepatan sampai 384GB/s dengan latency yang minim.

Keuntungan lain adalah penurunan konsumsi daya serta ukuran inti, apalagi dengann fabrikasi 32nm yang digunakan Sandy Bridge. Sebagai perbandingan, prosesor Sandy Bridge empat inti memiliki 995 juta transistor, namun ukuran die-nya hanya 216mm2. Bandingkan dengan pendahulunya, Lynnfield, yang “cuma” memiliki 296 juta transistor, namun memiliki ukuran die 296mm2.
Namun pengintegrasian tersebut juga menyisakan efek negatif. Pada era Nehalem, clock generator (yang mengatur frekuensi kerja seluruh komponen) berada di motherboard, yang memungkinkan kita melakukan overclock dengan menaikkan base clock (BCLK). Namun di Sandy Bridge, clock generator dipindahkan ke dalam prosesor. Hal ini membuat overclock melalui BCLK menjadi sangat sulit. Kenaikan hanya berkisar di angka 5-6MHz saja.
Apakah berarti overclock menjadi mati? Tidak sih, cuma lebih terbatas. Satu-satunya cara adalah menaikkan multiplier prosesor. Namun sebagian besar prosesor Sandy Bridge multiplier-nya dikunci. Yang dibuka hanya prosesor Sandy Bridge dengan akhiran “K”, yaitu Core i5 2500K (4 inti, 3,3GHz, tanpa HyperThreading) dan Core i7 2600K (4 inti, 3,4GHz, dengan HyperThreading).

MENUJU REFORMASI PSSI

Setelah terjadinya demonstrasi besar - besaran menuntut Nurdin Halid turun lalu pembekuan PSSI oleh pemerintah, FIFA akhirnya mengeluarkan keputusan membentuk Komite Normalisasi PSSI menggantikan Komite Eksekutif untuk mengatasi krisis yang belakangan ini terjadi. Hal ini berdasarkan hasil rapat Komite Darurat FIFA di Zurich, Swiss, pada 1 April, diputuskan, sesuai dengan statuta FIFA artikel 7 pasal 2, komite normalisasi akan mengambil alih peran komite eksekutif [Exco] PSSI.

“Komite Darurat FIFA menganggap pemimpin PSSI sudah tidak mengendalikan persepakbolaan Indonesia dengan salah satu bukti masih adanya LPI, yang didirikan tanpa keterlibatan PSSI,” seperti dilansir laman FIFA. Untuk itu FIFA membentuk Komite Normalisasi ini terdiri dari pihak-pihak di persepakbolaan Indonesia yang tidak terlibat di PSSI.

“Komite Normalisasi ini juga bertindak sebagai Komite Pemilihan. Komite Darurat FIFA juga memastikan keempat calon ketua umum PSSI yang ditolak Komite Banding pada 28 Februari lalu, tidak bisa dicalonkan lagi,” lanjut laman tersebut.
Dengan demikian, secara tegas Komite Normalisai FIFA mengambil kesimpulan kepengurusan PSSI di bawah pimpinan Nurdin telah kehilangan kredibilitas, dan tidak berada dalam posisinya lagi untuk memecahkan krisis yang terjadi. Semua tugas Exco diambil alih Komite Normalisasi

Keputusan yang di ambil FIFA
1. FIFA mengambil kesimpulan bahwa PSSI telah kehilangan kredibiltasnya dan tidak dalam posisi untuk menyelesaikan krisis yang terjadi saat ini.

2. FIFA menggariskan Komite Normalisasi bertugas untuk mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI berlandaskan pada FIFA Electoral Code dan Statuta PSSI, paling lambat sebelum 21 Mei 2011.
3. Tugas kedua, Komite Normalisasi diinstruksikan untuk segera mengontrol pelaksanaan run-away league (LPI) atau menghentikannya sesegera mungkin. Komite Normalisasi juga diminta untuk menyelenggarakan aktivitas sehari-hari PSSI dengan semangat rekonsiliasi demi kebaikan persepakbolaan Indonesia.
4. FIFA menyatakan Komite Normalisasi harus terdiri dari orang-orang yang nantinya tak akan menempati posisi apapun di kepengurusan PSSI baru dan juga akan bertindak sebagai Komite Pemilihan. FIFA juga menyatakan empat kandidat ketua umum (Nurdin Halid, George Toisutta, Nirwan D. Bakrie, dan Arifin Panigoro) yang pencalonannya telah dianulir oleh Komite Banding pada 28 Februari lalu, tidak bisa mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI.

FIFA mengkonfirmasikan telah mengangkat Agum Gumelar sebagai ketua. Dalam menjalan tugasnya, Agum yang mantan ketua umum PSSI itu akan dibantu tujuh anggota. Mereka adalah Sukawi Sutarip (Ketua Pengurus PSSI Provinsi Jawa Tengah), Siti Nurzanah (Sekretaris Yayasan PS Arema), Hadi Rudiatmo (Ketua Umum Pengurus PSSI Cabang Solo), Joko Driyono (CEO PT Liga Indonesia), Samsul Ashar (Ketua Umum Persik Kediri), Satim Sofyan (Pengurus PSSI Provinsi Banten), dan Dityo Pramoni (Medan Bintang). FIFA, kata media officer itu, menunjuk mereka setelah berkonsultasi dengan para pemangku kepentingan sepakbola di Indonesia.

Tiga Tugas Komite Normalisasi yang telah ditetapkan Komite Darurat:
1. Menggelar kongres berdasarkan electoral code FIFA dan Statuta PSSI sebelum 21 Mei 2011
2.Mengambil alih LPI di bawah kendali PSSI atau menghentikan kompetisi tersebut secepat mungkin.
3. Mengendalikan kegiatan PSSI dengan spirit rekonsiliasi untuk perbaikan sepakbola Indonesia.

Semoga ini merupakan kebangkitan dari persepakbolaan di negeri yang kita cintai ini......
 sumber :
http://fakta-dan-unik.blogspot.com/2011/04/keputusan-fifa-membentuk-komite.html
http://www.dapurbola.com/fifa-bentuk-komite-normalisasi-pssi.html
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/04/11/komite-normalisasi-pssi-temui-pemilik-sah-suara-pssi
http://fokus.vivanews.com/news/read/213152-menpora--sepakbola-nol-prestasi
http://bola.kompas.com/read/2011/04/05/11541853/Pemerintah.Sambut.Baik.Komite.Normalisasi.PSSI